the place where hungry mind and starving brain are feeded
Itu salah satu pemeo terkenal soal betapa sebuah gambar dapat menceritakan beribu makna, yang bisa jadi tidak terangkaikan dengan kata-kata. Maksudnya, kalau harus ditulis mungkin butuh berpuluh-puluh paragraf, seperti layaknya sebuah novel, ataupun skripsi. Nah, terus di kalangan desainer biasanya mereka menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan pesan singkat, padat, dan montok [yang terakhir ini cuma distraksi aja]. Cukup dengan satu gambar, dan InsyaAllah kita tahu apa yang dimaksud gambar tersebut. Contoh yang paling sederhana misalnya poster tentang penyuluhan keluarga berencana [yuuk, coba diinget2, bagaimana tampilan poster2 semacam ini, dan pesan yang terbawa di dalamnya].
Lantas itu pula sebabnya kemudian muncul seperti kartun strip, komik minim dialog, dan sejenisnya. Intinya, gambar jadi pembawa pesan yang sangat efektif, pun jadi satu elemen yang sangat menarik, dibandingkan dengan tulisan. Karena gambar langsung menyangkut persepsi estetika masing2 orang. Agak berbeda dengan tulisan yang lebih kepada persepsi penalaran, butuh kerja ekstra dari otak untuk dapat memahaminya.
Well, pada kurun beberapa waktu lalu bisa jadi paradigma ini berlaku [he he he, termasuk juga diriku, yang sedikit banyak masih terpatri pada semi-dogma ini]. Yang mau kubicarakan adalah hubungannya dengan saat kita membuat desain web. A picture can speak thousands words. Datanglah masa dimana kita lihat desain web yang waaah!! Asik-asik pade….
Sampai semalam, salah seorang teman menunjukkan desain web yang [katanya] menghasilkan 50 M sehari. Ealaaah, websitenya bener2 sederhana. Kalau ga salah inget cuma ada headline yang plus minus berbunyi "Bagaimana Cara Mengetahui Teman Kencan Kita Sudah Siap Dicium atau Belum". Dibawahnya ada sedikit bla bla bla, lalu ada form nama dan alamat e-mail. Wes, mek iku thok. Backgroundnya putih, belakangan baru tahu bahwa background putih akan mempercepat download dan juga membuat tulisan lebih tegas, lebih illegible, gitu kata pak dosen dulu [kalau ga percaya periksa website Google, Yahoo, atau Friendster]. FYI itu ternyata website yang memang ditujukan untuk online bisnes. So what?
Ya so so lah. Karena web itu bener-bener hanya menggunakan rangkaian kata2. Tanpa gambar sama sekali. Got my point?? Yup, you’re clever buddy. Jadi ga berarti lagi deh pemeo A Picture Can Speak Thousands Words. Sebab meski dengan kata2 dan penjelasan yang agak panjang kita tetep sabar menyelesaikannya dikarenakan headline yang menarik. Memang itu tujuannya. Akhirnya gugur pula asumsi bahwa gambar lebih bisa menyampaikan pesan dengan singkat tapi padat, juga asumsi bahwa orang akan lebih bosan saat diharuskan membaca kalimat per kalimat. Semua terkalahkan oleh headline yang menyodok [terutama buat kaum pria, he he he, yang ga mau rugi, mosok kencan 3 - 4 kali belum dikasih kesempatan buat nyium juga]. Pun gugur juga asumsiku bahwa tulisan menyangkut persepsi penalaran. Kalah sama keinginan buat segera mencium teman kencan. Yikes!!
Satu-satunya alasan yang menurutku lebih masuk anal adalah bahwa sebab website itu dihubungkan dengan kepentingan top rank di search engine. Seperti kita maklumi, search engine hanya bisa mengenali kata2 untuk kunci [keyword] tapi tidak gambar. Dan itu berkaitan dengan tinggi rendahnya traffic website yang ujung2nya pada sedikit banyaknya income yang didapat. Jadi, kesimpulan si dia, kalau mau bikin website yang bagus, pakailah image. Tapi kalau mau bikin website yang menghasilkan banyak uang, bukan berarti jangan pakai gambar, gunakan gambar seminim mungkin, perkuat di headline dan juga tagline.
Duh, sepertinya sekarang datang era dimana kita mau bikin website yang minimalis, but kicking. Hidup Headline dan Tagline, goodbye Aesthetically Images. Hey, wait a minute, does it have to?? Humphf, kayaknya jadi tantangan baru deh. Bikin website yang menghasilkan banyak duit tapi tetep asik. Ya itu, bukan A Picture Can Speak Thousan Words, tapi A Words Can Make Thousand Dollars.
It’s all about keep my ideas alive!!
Itu dua kawan istriku, adalah temenku juga yang mereka sudah lama tidak berjumpa rupanya. Eh, ndilalah, coincident mereka berdua bareng dalam satu lift di Plangi [katanya itu kependekan dari Plaza Semanggi, bener ya? maaf, saya belum pernah kesana]. Jimmy mau menyapa tapi tengsin karena lupa nama. Addo cuma membatin perasaan orang ini mirip temannya Jimmy [padahal yang dilihat itu ya si Jimmy]. Akhirnya salah satu dari mereka sms istriku untuk kros cek. dan terbongkarlah jikalau dua orang itu sama-sama payah.
Ah, anak muda sekarang. Sudah mulai dihinggapi pikun dini, mestinya bukan pikun dini, tapi pensiun dini. Atau mungkin pikun dini itu dateng gara-gara terlalu bersemangat mengejar pensiun dini?? Mbuh ya??
Diteruskan dari Mr. Antonius Andi, after his spiritual journey to the corner of the villages around.
What is Junglish? Jungle English..like one mentioned below:
Javelish.. The typical Javanese language: ‘lho’, ‘lha’, ‘tho’, ‘kok’, ‘ki’, etc
-Lho, I already bought that book !
-Kok, buying again ?
-I told you many times ‘tho’ !
-Lha, I didn’t know … how ki !?
-Don’t be like that, no….!?
Jakartenglish ? Jakarte English is marked by the ’sih’, ‘deh’, ‘dong’,'nih’,etc
-That book is very good, deh.
-Can you speak english?.. yeah a little sih I can!
-Use my money first nih..
-Give me more dong..
-How sih? Little little angry..
Surobenglish is marked by ‘tah’ and the famous word is ‘diancuk’
-"No fuc***g good" … is pronounced by arek Suroboyo using "No diancuk good"!
-Do you feel sick, tah ?
Other exclamation words of Java : ‘wo_’, ‘wah’, ‘w?’, ‘jian’, and ‘j?’
-W? lha this book is mine j?..!
-Wo_, only like that tho!
-Wah, expensive, tho?
-Jian, Paijem is so beautiful tenan.
Sundanglish is also available such as ‘atuh’, ‘euy’, ‘mah’
-Well, if that kind,it pretty so-so atuh
-It can’t be that way euy..
-I am mah, not like that… anything else
There are also abundant ’sound effect’ in Javanesse language.
-Suddenly, mak bedhengus den Tukiman appeared
-My head feels pain, mak cleng!
-Mak tlepok, I got a manggo
-My chicken is suddenly died, mak cekengkeng
-Mak gedebug, Kampret?fell down.
-Mak jegagik…. Oh, trondholo !
Now it is all clear why Mr. Antonius Andi got a nickname "Koplo!", a seven?? Yes…
Pasangan jiwa, belahan jiwa, harfiahnya begitu. Belakangan kata-kata ini jadi keren banget di kalangan cewek terutama. "Have you meet your soulmate?", that is a FAQ in most sites, blogs, about me, and all those things about [again] soulmate. Begitu pentingkah begitu asiknyakah sampai soulmate jadi sesuatu yang trend??
Gosh, I am not the expert nor the dummies! Cuma berusaha memahami dan mencoba nulis di blog. Soulmate, belahan jiwa, pasangan jiwa [asal ojo diplesetno dadi "konco teko ibukota Korea Selatan"] adalah seseorang yang cocok dengan apa yang kita mau, kita rasa, kita inginkan. In short, nyambung. Ha ha, nyambung.
Istriku sendiri pernah dengan bersemangat membahas tentang soulmate ini. Katanya bisa jadi seorang yang udah menikah itu tetep aja belum nemu soulmatenya. Bisa jadi soulmatenya orang lain. Gosh, how could this happened?!! Emang sih ada kemungkinan juga seperti itu. Mungkin aja nikahnya gak didasari rasa cinta, atau apalah. Tapi harus diingat saat kita udah menikah mestinya itu jadi satu batasan untuk mencoba mencari soulmate yang lain. Jujur saja, mungkin emang dengan pasangan legal kita banyak terjadi ketidakcocokan, bahkan mungkin perselisihan. Justru disitulah yang namanya soulmate bakal muncul. Karena perjalanan waktu akan mempertemukan dua jiwa itu jadi sepasang yang saling mengisi dan melengkapi [byuuuh, lagaknya kaya penasehat perkawinan gini ya?]. But that is the truth.
Lho, kok jadi lari ke pernikahan? Yaa begitulah, sebabnya sekarang ini juga emang lagi ngetrend orang-orang sibuk cari soulmatenya. Even orang yang sudah berkeluarga. Pada ujung-ujungnya itu jadi awal keretakan dan perpecahan. Gara-gara soulmate? Bukan, bukan karena soulmatenya, tapi karena perilaku mencoba mencari soulmate itu dong deh ah!! Ga jadi soulmate lagi, jadinya sick soulmate alias temen sakit jiwa [he he he, maafkan kegaringan sejenis ini]. Ga jelas juga siapa yang pertama mengkompor-mengkompori perkara soulmate gini. Kemungkinan juga semacam budaya-budaya barat dan juga new age pop culture dan sekelasnya itu. Yang selalu mengatasnamakan kebebasan berbicara, kebablasan berekspresi, keterlaluan berbuat. Gosh, what will happen?? Kalau masih single sih ga jadi masalah mau nyari soulmate sampai ujung dunia pun. Soalnya belum ada keterikatan.
Soulmate, belahan jiwa, pasangan jiwa. Adalah tempat kita mencurahkan kasih dan sayang, sumber inspirasi, tempat tujuan kita selalu berusaha keras setiap hari. Soulmate ada bukan karena pencarian berawal dari ketidakcocokan. Soulmate muncul dari kemauan dan kemampuan kita berkompromi, berkawan, dan mencoba mengerti pasangan kita.
[ditulis buat empat tahun yang sudah kita jalani. 27 sept 2002 - 27 sept 2006 - selalu]
Ada, karena
Bangsa Indonesia yang pluralis, sebelum kemerdekaan sudah timbul kesadaran
untuk bersatu dan menjadi satu bangsa. Hal itu tercermin dalam Sumpah Pemuda 28
Oktober 1928. Kesadaran itu tumbuh dari hati nurani tanpa ada paksaan. Artinya
jauh berbeda dari Uni Soviet yang bersatu lantaran paksaan kaum komunis,
sehingga akhirnya pecah menjadi negara-negara berdasarkan etnis.
Kesadaran yang
tumbuh dari hati nurani setelah kemerdekaan dirumuskan menjadi filsafat negara
dan hukum dasar Pancasila dan UUD 1945.
Sikap itu
membentuk semangat kebangsaan atau nasionalisme. Jika kita amati, ada dua macam
dimensi yang membentuk nasionalisme tersebut, yaitu dimensi emosional dan
rasional.
Dimensi
emosional memberikan watak bahwa secara emosional bangsa kita mencintai tanah
air, bangsa, dan kemerdekaan. Dimensi rasional melahirkan watak bahwa bangsa
kita secara rasional menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kesatuan yang
demokratis.
Karena
menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, nasionalisme tidak bersifat chauvinistic
atau uber alles seperti nasionalisme sosialis (Nazi Jerman), tetapi
menghormati dan bersikap adil terhadap bangsa lain. Kebenaran dan keadilan
nasionalisme Indonesia bertolak dari kebenaran illahi (Ketuhanan yang Maha Esa)
yang bersifat universal dan merupakan kebenaran tertinggi dan bukan kebenaran
golongan/partai atau bangsa. Nasionalisme Indonesia menolak prinsip right or
wrong my country.
Karena
menjunjung tinggi keadilan, nasionalisme Indonesia menolak penjajahan,
penindasan, dan pemerasan dalam segala bentuk dan manifestasinya.
So? sudah seger lagi ingatannya akan peladjaran PMP semasa SD - SMA???
Jawohl Mein Fuhrer!!!