Dec
03
Filed Under (Expression) by kilababe on 03-12-2006

Ini
disadur dari harian Jawa Pos, tulisannya Mr Dahlan Iskan, publik figur paling
asik di Jatim. Menyadur ini mengingat bahwa sebentar lagi proyek prestisiusnya
bakal diresmikan, yaitu Jatim Expo, sebuah gedung pameran yang luar biasa asik,
dari desainnya, dari letaknya, pun dari proses pengerjaannya yang a la
pengerjaan Tangkuban Perahu atau Candi Sewu. Atau sama dengan kelakuan
mahasiswa yang hobi SKS. Ha ha ha. Nggak tau kenapa kok Mr. Dahlan Iskan dan
teman-teman berencana meresmikan Jatim Expo pada 7 Desember 2006 ini, notabene
tinggal 3 hari lagi. Halah!!

Tapi
you guys mungkin bisa baca dari artikel yang ane sadur dibawah ini. Read it,
get the spirit….

Senin,
06 Nov 2006,

Email
dari RRT (4-Habis)

Belajar
Bonek dari Daqing

Dua
hari yang lalu, saya ke Daqing (lagi!). Satu kabupaten terpencil penghasil
minyak mentah terbesar di RRT. Kali ini saya mendampingi seorang pejabat tinggi
dari Jakarta. Dia ingin belajar bagaimana RRT yang bukan negeri anggota OPEC
(negeri pengekspor minyak) bisa punya produksi minyak lebih besar daripada Indonesia
yang anggota OPEC. Beliau memang baru menghadiri satu acara bersama Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Shanghai (presiden kemudian ke Nanning dan
kami ke Daqing). Presiden ke wilayah RRT paling selatan dan kami ke wilayah RRT
paling utara.

Kita
memang prihatin karena sejak lebih dari lima tahun terakhir, produksi minyak
mentah kita menurun terus. Kini tidak sampai 1 juta barel / hari. Maka harus
dicari akal agar produksi itu naik kembali, tanpa misalnya, menunggu
investasi-investasi besar yang biasanya perlu waktu lama.

Di
Daqing, kita memang bisa belajar banyak. Terutama mengenai tekad. Kalau tekad
tidak kuat, tujuan tidak akan bisa berhasil. Kalau menunggu kemampuan terus,
kita tidak akan pernah mampu mewujudkan apa pun. Tekad, semangat, dan
kesungguhan. Itu yang perlu lebih dulu.

Ini
yang sebenarnya ada di balik filsafat bonek, yang kemudian disalahartikan
menjadi negatif ketika kerusuhan suporter Persebaya selalu terjadi. Peristiwa
10 November adalah bonek. Menyatakan kemerdekaan Indonesia adalah bonek. Dan
membangun Gedung Expo Jatim di Surabaya, he he, adalah juga bonek! Bonek yang
asli.

Tahun
lalu saya juga ke Daqing. Waktu itu mendampingi bupati Bojonegoro yang bakal
kebanjiran minyak, bupati Lamongan, dan ketua DPRD Jatim. Dalam setahun ini,
perubahan sudah sangat mencolok. Kini sudah jadi sebuah jalan lingkar kota, dua
arah yang dipisahkan taman yang luas, yang masing-masing arah terdiri atas tiga
lajur. Gedung-gedung tinggi juga sudah tambah banyak. Padahal, kabupaten itu
berada di Provinsi Heilongjiang yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi
seperti Shanghai, Shenzhen, atau Beijing.

Kini
juga sudah jadi gedung memorial hall yang besar, empat lantai, dan berada di
lahan satu hektare. Gedung itu dibangun untuk mengenang seseorang yang amat
berjasa atas ditemukannya minyak di Daqing pada 1952. Dia bukan seorang tokoh
nasional atau pemimpin politik. Dia seorang buruh biasa. Di sinilah terjadi:
buruh biasa, namun berjasa, dibikinkan gedung peringatan yang megah.

Di
dalamnya penuh diorama dan foto-foto yang memperlihatkan perjalanan hidup si
buruh. Namanya Wang Jingxi. Dia mendapat gelar "manusia besi" karena
kerja kerasnya yang melebihi buruh-buruh minyak yang lain. Waktu itu, sebagai
pendatang, Wang tinggal di rumah seorang nenek miskin di Daqing. Saking
kerasnya kerja Wang, sampai-sampai si nenek kasihan. Lalu memberi nasihat: Wang,
kamu ini bukan besi. Kamu harus istirahat dan makan yang cukup! Tapi, Wang
tetap saja kerja membaja. Sejak saat itulah dia dikenal sebagai Wang, si
manusia besi. Dia ternyata bonek besi!

Riwayat
Daqing adalah riwayat bonek. Waktu itu tidak ada teknologi perminyakan. Daerah
Daqing juga amat terpencil. Ahli perminyakan juga tidak punya. Apalagi ahli
seismic dan drilling. Cuaca pun lagi buruk: musim salju. Namun, RRT lagi butuh minyak.
Pesawat tempur, tank-tank, dan truk tentara, semua tidak bisa dijalankan. Padahal,
ancaman perang terus memuncak.

Maka
pimpinan nasional, saat itu Mao Zedong, minta agar dalam waktu sekejap
dikerahkan 30 ribu orang dari seluruh negeri ke Daqing. Di mana itu Daqing
tentu tidak banyak yang tahu. Bahkan, nama Daqing sendiri belum ada. Maka
dengan kereta api dan jalan kaki, 30 ribu orang didatangkan ke padang belantara
itu. Ada yang datang dari daerah yang jauhnya 5.000 km. Seperti Wang sendiri.
Waktu itu Wang berumur 14 tahun. Dia tinggal di suatu desa di Provinsi Ganshu
dekat Xinjiang. Dia ikut berangkat karena terbakar semangat cinta tanah air.

Tiba
di padang sauna itu, masing-masing membuat grup mencari minyak. Lokasinya agak
ngawur. Sumur pertama digali oleh Wang dan kelompoknya. Gagal. Sumur kedua
dikerjakan. Juga gagal. Salju kian tebal. Kedinginan luar biasa menyiksa. Baru
ketika di sumur ketiga, Wang menemukannya. Minyak muncrat dengan kerasnya:
namun muncratan itu harus segera diatasi. Kalau tidak, bisa seperti lumpur
Lapindo. Wang tidak berpikir panjang. Dia langsung terjun ke sumber minyak itu
untuk menutupnya. Yang lain kemudian mengikuti. Maka ramai-ramailah orang menutup
sumber itu dengan badan tenggelam di dalam lumpur minyak. Setelah ditutup,
barulah minyak dikendalikan dan dialirkan.

Orang-orang
lantas berpesta. Berhasil. Pesta besar, dalam bahasa Mandarin disebut Da Qing!
Maka jadilah kawasan baru dengan penduduk awal 30 ribu orang itu menggunakan
nama Daqing.

Kini,
tempat tidur Wang yang reot, bajunya yang kumal, topinya yang lusuh, dan
peralatan pengeborannya yang serba manual diabadikan di gedung itu. Pada umur 56
tahun, dia sakit kanker perut. Lalu sembuh. Lalu meninggal.

Kemauan
adalah nomor satu. Tekad juga nomor satu. Semangat juga nomor satu. Yang
lain-lain menyusul. Ini mungkin agak kuno. Tapi masih sering mujarab sebagai
resep. Terutama bagi siapa saja yang masih merasa miskin. Seperti, mestinya,
kita Indonesia

ini.
Ada satu pepatah yang diucapkan Wang yang kemudian ditempel di gedung itu:
"Semua ini pada mulanya tidak memenuhi syarat. Kitalah yang membuatnya
memenuhi syarat."

Sering
kita mencari syarat dulu. Sampai kemudian keburu ketinggalan dan ketinggalan
lagi.

Nov
16
Filed Under (Jokes) by kilababe on 16-11-2006

Kemarin ada kejadian yang membuat jantung kami serasa berhenti berdetak. Tidak pernah terbayangkan seandainya sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Ceritanya, siang hari ketika eyang kakung dan eyang putri Kila baru saja pulang dari bepergian. Saat mau turun dari mobil eyang putrinya melihat Kila duduk di balkon lantai dua, di luar tembok pembatas lantai dengan genting depan, dengan santai dan asiknya bersandar pada tembok, melambai-lambai ke arah eyang putrinya.

Astaghfirullah! Ya Allah Ya Rabbi! ternyata Kila sendirian di atas situ tanpa pengawasan dari orang dewasa. Hanya berteman Nonik, gadis berumur 3 tahun anak pembantu kami. Tidak terbayangkan seandainya Kila berusaha ke arah eyangnya. Jauh-jauh kami singkirkan pikiran buruk itu dari benak.

Eyang putrinya dengan gegap gempita berteriak-teriak kepada pembantu kami untuk segera mengambil Kila dari tempat berbahaya itu. Untungnya dia cepat dan tanggap. Tanpa kepanikan dan dengan tingkat kewarasan yang tinggi dia ambil Kila secara perlahan dan tidak mengejutkan. Kebayang kan, kalau pembantu kami itu panik, bisa-bisa Kila kaget dan… Pikiran itu juga kami buang jauh-jauh.

Hanya berterima kasih selalu pada Tuhan yang masih melindungi putri kami. Kejadian itu membuat kami tersadar, we’ve got to pray lot more for such lovely fearless kid like Kila. Semoga Tuhan selalu memberi perlindungan buat Kila.

Sampai sekarang nggak habis pikir, bagaimana Kila, anak yang baru berumur 20 bulan bisa memanjat tepian guci yang tipis untuk dapat melewati tembok pembatas. Sedangkan Nonik yang berumur 3 tahun saja kesulitan, apalagi kakaknya, Arki yang berumur 3,5 tahun. Selain kesulitan tambah lagi si Arki lebih penakut dari Kila.

Lagi, semoga Tuhan selalu memberi perlindungan, kesejahteraan, kesehatan, dan kemuliaan buatmu Kila.

Oct
14
Filed Under (Jokes) by kilababe on 14-10-2006

Tentang patung polisi yang suka dipasang di depan pos penjagaan di tepi-tepi jalan-jalan kota, ibu mertuaku sekali bilang kalau sekarang ini sudah bagus patungnya. Sudah sangat mirip dengan polisi aslinya, polisi yang juga manusia. Wah, berarti sudah bagus dong? Iya bagus, sudah susah membedakan mana yang polisi asli mana yang patung.

Sejurus kemudian ibu mertuaku bilang lagi, gampang sebenarnya membedakan mana yang patung mana yang asli. Lihat saja dari masker yang menutupi hidung dan mulut polisi asli. Pikir punya pikir, bener juga ya? Maklumlah, tingkat polusi di kota Surabaya sudah sangat mengkhawatirkan, hingga polisi yang bertugas di jalan memiliki kecenderungan untuk wajib bermasker, kalau tidak dikhawatirkan tidak lama kemudian akan menjadi "patung polisi" juga.

Jadi, rasanya akan lebih baik juga kalau patung polisi juga diberi masker biar jadi peringatan kalau Surabaya sudah sangat berpolusi.

Oct
10
Filed Under (Jokes) by kilababe on 10-10-2006

Tindisen orang Surabaya bilang, tindihen orang Magelang bilang. Adalah dua istilah yang sama makna. Merupakan kejadian alami [yang sampai sekarang belum ketahuan penyebab pastinya] dimana kita merasakan sebuah impian, atau seolah-olah kejadian yang biasanya menyeramkan, membuat kita seoalah-olah ditindih, dipiting, dikejar-kejar, pokoknya semua yang nggak enak, dan menakutkan. Kalau meminjam istilah temanku, layaknya dipukuli orang satu RW dan kita tak bisa membalas sama sekali, sometimes even worst. Dan parahnya lagi saat kejadian itu diri kita jadi begitu tidak berdaya, even just to breath. Duh…

Seperti tadi pagi habis sahur, si neng Kila nggak mau tidur dari jam 02.00 sampai pagi pertengahan sahur. Setelah dininabobokkan dengan cara dipangku, dinyanyiin lagu bersuara fals dari bapaknya, dengan kepala rebah di lutut, lalu digoyang-goyang, akhirnya si anak cantik ini terlelap walau dengan susah payah. Pindah ke kamar atas si neng masih tertidur pulas juga, untunglah. Tinggal sekarang bapak sama emaknya yang ngantuk berad setelah melekan cukup lama. Giliran tiba kesempatan buat sekedar merebahkan diri, tengkurep di sebelah si neng, dalam hitungan detik rasanya sudah mulai lelap. Diiringi lagu lullaby dari CD favorit Kila, All that’s lullaby songs, rasanya tenteram, pada awalnya.  Nggak lama kemudian lagunya kok terasa aneh, antara terlelap dan belum  alunan melodinya terdengar mulai nyaring. Sementara ketukan bas dan perkusinya mulai terdengar mengancam. Makin lama makin terdengar seperti horor. Nada dan melodinya tetep bisa diikuti, dan aku mengenali lagu itu sebagai lagu anak-anak. Tapi tetap aja jadi suara-suara yang terdengar seram dan mengancam. Aduh duh duh duh, rasanya mulai deh, badan nggak bisa digerakin, mau melek pun beraaat sekali rasanya. Sementara mau bernafas juga susah. Mau manggil-manggil istriku juga kelu rasanya. Yup, inilah fase semi-akut dari beberapa tahapan tindisan, halah!

Nunggu Iyut datang dan buka pintu rasanya lamaa bangeet! Sementara terus berjuang untuk sekedar terbangun. Sekarang, pas nulis blog ini jadi bertanya-tanya juga, apa sih yang menyebabkan tindisan? Rasanya tidak melakukan hal-hal yang tercela, ataupun yang anonoh. Lha kok tetep kebagian tindisan? Apa prosesnya seperti mimpi juga ya? Sesuatu yang muncul dari bawah sadar kita lalu menjelma seolah-seolah nyata, ditambah menyeramkan. Kalau kata pak ustad dulu sih bisa jadi karena saat tidur kepala kita nggak menghadap kiblat [emang sih, tengkurep membujur ke timur]. Haduh, masak karena itu ya? Seingatku sih gara-gara malam sebelumnya nonton VCD Silent Hill. Sepertinya itu deh yang jadi penyebab tindisen kali ini. Humpfh!Endingnya, akhirnya bisa terbangun dan bebas dari tindisen waktu denger Iyut buka pintu. Haaah, lega rasanya. Istriku penyelamatku.

Duh, duh, duh, baru kali ini kejadian lagu nina bobok anak-anak yang harusnya lembut dan melenakan jadi suara horor yang sangat mengancam.

Oct
05
Filed Under (Expression) by kilababe on 05-10-2006

Lho, kok judulnya pakai bahasa Inggris?? Wah, itu dia! Sebenernya hari ini dimulai dengan semua kekacauan dan ketidakenakhatian. Makan saur penutupnya kue tart rasa mocca sisa ulang tahun Iyut kemarin. Walhasil jam 6 pagi pipis berefek bau mocca. Tambah sendawa juga rasa mocca.

Jam 7 pagi mau nganter Iyut rasanya kok ga enak hati gini ya? Bisa jadi karena mocca yang berlebihan, atau apalah. Yang jelas get cranky gitu lho! Di jalan naik motor rasanya juga aneh, jalannya sih maju seperti motor yang lain. Tapi rasanya kok menuju ke samping kanan terus ya? Perasaan seperti orang teler deh! Ngeliat orang2 juga rasanya nggak enak banget pingin nabokin aja! Mana ada kejadian lucu di lampu merah, tapi bukannya tertawa malah sebal. Lha gimana nggak? Orang2 di bagian depan kok bisa ngelamun massal gitu, pas wayahe lampu ijo dadakno meneng ae, ga budal2. Akhirnya mencet klakson deh! Teeet, teeet! Baru pada ngeh, itu juga lambat…

Mau sampe ke tempat tujuan rasanya juga jauuuh banget, ga nyampe2. Dan tetep, rasanya ga enak ati gitu. Hummm, semoga ga ada apa2 yang ga enak hari ini.

Sampai saat nulis blog ini rasanya juga masih ga enak hati. Everything was just sucks! Sucks more than ever!! Sorry, lagi ga enak hati, jadi disudahi saja…

  •  

    September 2009
    M T W T F S S
    « Apr    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930