Oct
14
Filed Under (Jokes) by kilababe on 14-10-2006

Tentang patung polisi yang suka dipasang di depan pos penjagaan di tepi-tepi jalan-jalan kota, ibu mertuaku sekali bilang kalau sekarang ini sudah bagus patungnya. Sudah sangat mirip dengan polisi aslinya, polisi yang juga manusia. Wah, berarti sudah bagus dong? Iya bagus, sudah susah membedakan mana yang polisi asli mana yang patung.

Sejurus kemudian ibu mertuaku bilang lagi, gampang sebenarnya membedakan mana yang patung mana yang asli. Lihat saja dari masker yang menutupi hidung dan mulut polisi asli. Pikir punya pikir, bener juga ya? Maklumlah, tingkat polusi di kota Surabaya sudah sangat mengkhawatirkan, hingga polisi yang bertugas di jalan memiliki kecenderungan untuk wajib bermasker, kalau tidak dikhawatirkan tidak lama kemudian akan menjadi "patung polisi" juga.

Jadi, rasanya akan lebih baik juga kalau patung polisi juga diberi masker biar jadi peringatan kalau Surabaya sudah sangat berpolusi.

Oct
10
Filed Under (Jokes) by kilababe on 10-10-2006

Tindisen orang Surabaya bilang, tindihen orang Magelang bilang. Adalah dua istilah yang sama makna. Merupakan kejadian alami [yang sampai sekarang belum ketahuan penyebab pastinya] dimana kita merasakan sebuah impian, atau seolah-olah kejadian yang biasanya menyeramkan, membuat kita seoalah-olah ditindih, dipiting, dikejar-kejar, pokoknya semua yang nggak enak, dan menakutkan. Kalau meminjam istilah temanku, layaknya dipukuli orang satu RW dan kita tak bisa membalas sama sekali, sometimes even worst. Dan parahnya lagi saat kejadian itu diri kita jadi begitu tidak berdaya, even just to breath. Duh…

Seperti tadi pagi habis sahur, si neng Kila nggak mau tidur dari jam 02.00 sampai pagi pertengahan sahur. Setelah dininabobokkan dengan cara dipangku, dinyanyiin lagu bersuara fals dari bapaknya, dengan kepala rebah di lutut, lalu digoyang-goyang, akhirnya si anak cantik ini terlelap walau dengan susah payah. Pindah ke kamar atas si neng masih tertidur pulas juga, untunglah. Tinggal sekarang bapak sama emaknya yang ngantuk berad setelah melekan cukup lama. Giliran tiba kesempatan buat sekedar merebahkan diri, tengkurep di sebelah si neng, dalam hitungan detik rasanya sudah mulai lelap. Diiringi lagu lullaby dari CD favorit Kila, All that’s lullaby songs, rasanya tenteram, pada awalnya.  Nggak lama kemudian lagunya kok terasa aneh, antara terlelap dan belum  alunan melodinya terdengar mulai nyaring. Sementara ketukan bas dan perkusinya mulai terdengar mengancam. Makin lama makin terdengar seperti horor. Nada dan melodinya tetep bisa diikuti, dan aku mengenali lagu itu sebagai lagu anak-anak. Tapi tetap aja jadi suara-suara yang terdengar seram dan mengancam. Aduh duh duh duh, rasanya mulai deh, badan nggak bisa digerakin, mau melek pun beraaat sekali rasanya. Sementara mau bernafas juga susah. Mau manggil-manggil istriku juga kelu rasanya. Yup, inilah fase semi-akut dari beberapa tahapan tindisan, halah!

Nunggu Iyut datang dan buka pintu rasanya lamaa bangeet! Sementara terus berjuang untuk sekedar terbangun. Sekarang, pas nulis blog ini jadi bertanya-tanya juga, apa sih yang menyebabkan tindisan? Rasanya tidak melakukan hal-hal yang tercela, ataupun yang anonoh. Lha kok tetep kebagian tindisan? Apa prosesnya seperti mimpi juga ya? Sesuatu yang muncul dari bawah sadar kita lalu menjelma seolah-seolah nyata, ditambah menyeramkan. Kalau kata pak ustad dulu sih bisa jadi karena saat tidur kepala kita nggak menghadap kiblat [emang sih, tengkurep membujur ke timur]. Haduh, masak karena itu ya? Seingatku sih gara-gara malam sebelumnya nonton VCD Silent Hill. Sepertinya itu deh yang jadi penyebab tindisen kali ini. Humpfh!Endingnya, akhirnya bisa terbangun dan bebas dari tindisen waktu denger Iyut buka pintu. Haaah, lega rasanya. Istriku penyelamatku.

Duh, duh, duh, baru kali ini kejadian lagu nina bobok anak-anak yang harusnya lembut dan melenakan jadi suara horor yang sangat mengancam.

Oct
05
Filed Under (Expression) by kilababe on 05-10-2006

Lho, kok judulnya pakai bahasa Inggris?? Wah, itu dia! Sebenernya hari ini dimulai dengan semua kekacauan dan ketidakenakhatian. Makan saur penutupnya kue tart rasa mocca sisa ulang tahun Iyut kemarin. Walhasil jam 6 pagi pipis berefek bau mocca. Tambah sendawa juga rasa mocca.

Jam 7 pagi mau nganter Iyut rasanya kok ga enak hati gini ya? Bisa jadi karena mocca yang berlebihan, atau apalah. Yang jelas get cranky gitu lho! Di jalan naik motor rasanya juga aneh, jalannya sih maju seperti motor yang lain. Tapi rasanya kok menuju ke samping kanan terus ya? Perasaan seperti orang teler deh! Ngeliat orang2 juga rasanya nggak enak banget pingin nabokin aja! Mana ada kejadian lucu di lampu merah, tapi bukannya tertawa malah sebal. Lha gimana nggak? Orang2 di bagian depan kok bisa ngelamun massal gitu, pas wayahe lampu ijo dadakno meneng ae, ga budal2. Akhirnya mencet klakson deh! Teeet, teeet! Baru pada ngeh, itu juga lambat…

Mau sampe ke tempat tujuan rasanya juga jauuuh banget, ga nyampe2. Dan tetep, rasanya ga enak ati gitu. Hummm, semoga ga ada apa2 yang ga enak hari ini.

Sampai saat nulis blog ini rasanya juga masih ga enak hati. Everything was just sucks! Sucks more than ever!! Sorry, lagi ga enak hati, jadi disudahi saja…

Oct
03
Filed Under (Web/Tech) by kilababe on 03-10-2006

Itu salah satu pemeo terkenal soal betapa sebuah gambar dapat menceritakan beribu makna, yang bisa jadi tidak terangkaikan dengan kata-kata. Maksudnya, kalau harus ditulis mungkin butuh berpuluh-puluh paragraf, seperti layaknya sebuah novel, ataupun skripsi. Nah, terus di kalangan desainer biasanya mereka menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan pesan singkat, padat, dan montok [yang terakhir ini cuma distraksi aja]. Cukup dengan satu gambar, dan InsyaAllah kita tahu apa yang dimaksud gambar tersebut. Contoh yang paling sederhana misalnya poster tentang penyuluhan keluarga berencana [yuuk, coba diinget2, bagaimana tampilan poster2 semacam ini, dan pesan yang terbawa di dalamnya].

Lantas itu pula sebabnya kemudian muncul seperti kartun strip, komik minim dialog, dan sejenisnya. Intinya, gambar jadi pembawa pesan yang sangat efektif, pun jadi satu elemen yang sangat menarik, dibandingkan dengan tulisan. Karena gambar langsung menyangkut persepsi estetika masing2 orang. Agak berbeda dengan tulisan yang lebih kepada persepsi penalaran, butuh kerja ekstra dari otak untuk dapat memahaminya.

Well, pada kurun beberapa waktu lalu bisa jadi paradigma ini berlaku [he he he, termasuk juga diriku, yang sedikit banyak masih terpatri pada semi-dogma ini]. Yang mau kubicarakan adalah hubungannya dengan saat kita membuat desain web. A picture can speak thousands words.  Datanglah masa dimana kita lihat  desain web yang waaah!! Asik-asik pade….

Sampai semalam, salah seorang teman menunjukkan desain web yang [katanya] menghasilkan 50 M sehari. Ealaaah, websitenya bener2 sederhana. Kalau ga salah inget cuma ada headline yang plus minus berbunyi "Bagaimana Cara Mengetahui Teman Kencan Kita Sudah Siap Dicium atau Belum". Dibawahnya ada sedikit bla bla bla, lalu ada form nama dan alamat e-mail. Wes, mek iku thok. Backgroundnya putih, belakangan baru tahu bahwa background putih akan mempercepat download dan juga membuat tulisan lebih tegas, lebih illegible, gitu kata pak dosen dulu [kalau ga percaya periksa website Google, Yahoo, atau Friendster]. FYI itu ternyata website yang memang ditujukan untuk online bisnes. So what?

Ya so so lah. Karena web itu bener-bener hanya menggunakan rangkaian kata2. Tanpa gambar sama sekali. Got my point?? Yup, you’re clever buddy. Jadi ga berarti lagi deh pemeo A Picture Can Speak Thousands Words. Sebab meski dengan kata2 dan penjelasan yang agak panjang kita tetep sabar menyelesaikannya dikarenakan headline yang menarik. Memang itu tujuannya. Akhirnya gugur pula asumsi bahwa gambar lebih bisa menyampaikan pesan dengan singkat tapi padat, juga asumsi bahwa orang akan lebih bosan saat diharuskan membaca kalimat per kalimat. Semua terkalahkan oleh headline yang menyodok [terutama buat kaum pria, he he he, yang ga mau rugi, mosok kencan 3 - 4 kali belum dikasih kesempatan buat nyium juga]. Pun gugur juga asumsiku bahwa tulisan menyangkut persepsi penalaran. Kalah sama keinginan buat segera mencium teman kencan. Yikes!!

Satu-satunya alasan yang menurutku lebih masuk anal adalah bahwa sebab website itu dihubungkan dengan kepentingan top rank di search engine. Seperti kita maklumi, search engine hanya bisa mengenali kata2 untuk kunci [keyword] tapi tidak gambar. Dan itu berkaitan dengan tinggi rendahnya traffic website yang ujung2nya pada sedikit banyaknya income yang didapat. Jadi, kesimpulan si dia, kalau mau bikin website yang bagus, pakailah image. Tapi kalau mau bikin website yang menghasilkan banyak uang, bukan berarti jangan pakai gambar, gunakan gambar seminim mungkin, perkuat di headline dan juga tagline.

Duh, sepertinya sekarang datang era dimana kita mau bikin website yang minimalis, but kicking. Hidup Headline dan Tagline, goodbye Aesthetically Images. Hey, wait a minute, does it have to?? Humphf, kayaknya jadi tantangan baru deh. Bikin website yang menghasilkan banyak duit tapi tetep asik. Ya itu, bukan A Picture Can Speak Thousan Words, tapi A Words Can Make Thousand Dollars.

It’s all about keep my ideas alive!!

  •  

    October 2006
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031